Proklamasi Dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Ke 74 Kemerdekaan Republik Idonesia Tahun 2019, di Lapangan Pengadegan.

Category : Tak Berkategori

Proklamasi Dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Ke 74 Kemerdekaan Republik Idonesia Tahun 2019, di Lapangan Pengadegan.

Tarling di Desa Pasunggingan Kecamatan Pengadegan dengan Ibu Bupati Purbalingga

Category : Tak Berkategori



Warga Aspirasikan Peningkatan Jalan Pasunggingan – Nangkasawit PURBALINGGA – Rombongan Bupati dan jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Purbalingga melaksanakan kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) putaran ke-7 di Masjid Darul Nurul Islam Desa Pasunggingan, Kecamatan Pengadegan, Minggu (19/5). Pada kesempatan itu Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM menyerap 2 aspirasi warga Desa Pasunggingan. Aspirasi pertama, yakni penyediaan lapangan sebagai pusat kegiatan olahraga masyarakat atau lainnya. Sebab selama ini, desa ini belum memilikinya. Aspirasi ke dua yakni peningkatan jalan Pasunggingan – Nangkasawit yang juga merupakan jalan kabupaten. “Tolong itu Pak Sigit (Kepala DPUPR Purbalingga) besok bisa langsung dicek untuk kemudian segera diperbaiki di APBD perubahan, kalau belum tersedia anggarannya akan diprioritaskan untuk tahun 2020,” kata Bupati Tiwi. Kepada para perangkat/kepala desa se-Kecamatan Pengadegan yang juga hadir diminta untuk bisa mempercepat administrasi untuk pencairan Alokasi dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD). Sehingga proses pembangunan di tingkat desa bisa segera terealisasi secepatnya. Bupati Tiwi mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Pengadegan khususnya Pasunggingan karena telah menyengkuyung program pemerintah selama ini, salah satunya yakni keamanan, ketertiban dan kelancaran atas terselenggaranya Pemilu 17 April 2019 lalu. “Inshaallah tanggal 22 Mei akan ada pengumuman siapa yang akan memenangkan kontestasi kemarin. KPU akan menentukan siapa presiden yang terpilih. Apapun hasilnya saya mohon seluruh masyarakat Purbalingga harus bisa mendukung dan menyengkuyung apa yang jadi program/kebijakannya nanti. Ketika ada informasi people power dan sebagainya, tidak usah ikut ikutan, sekarang saatnya jalin kembali persaudaraan,” katanya. Sementara itu, Camat Pengadegan Joko Pribowo SSos menyampaikan pelaksanaan Pemilu 2019 lalu, Kecamatan Pengadegan dan Desa Pasunggingan telah berlangsung tertib, aman dan lancar. Meskipun tingkat partisipasi pemilihnya hanya 75,45% atau masih di bawah target nasional yakni 77%. “Kami juga melaporkan, Desa Pasunggingan tahun ini mendapatkan program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap) sebanyak-banyaknya dari BPN (Badan Pertanahan Nasional), mengingat sampai saat ini masih ada 3500 bidang tanah yang belum bersertifikat,” katanya. Selain datang, bersilaturahmi dan menyerap aspirasi warga, rombongan Tarling Pemkab Purbalingga juga menyerahkan berbagai bantuan kepada masyarakat Kecamatan Pengadengan dan Desa Pasunggingan, diantaranya bantuan Genset dan uang tunai Rp 10 juta untuk Masjid Darul Nurul Islam, bantuan untuk para korban bencana, bantuan penyandang disabilitas atau Orang Dengan Kecacatan Berat serta bingkisan-bingkisan lainnya.


BPP Pengadegan Kembangkan Budidaya Lada Perdu

Category : Tak Berkategori

PURBALINGGA, INFO – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pengadegan kini tengah bergeliat mengembangkan tanaman lada perdu. Sebagai penghasil lada terbesar di Kabupaten Purbalingga, jenis tanaman lada tidak hanya lada panjat melainkan ada pula lada perdu untuk meningkatkan hasil panen lada para petani lada.

“Kecamatan Pengadegan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga yang sangat potensi untuk mengembangkan tanaman lada,” kata Sri Haryanti dari BPP Kecamatan Pengadegan saat dihubungi, Jumat (3/8).

Berkembangnya lada perdu di Kecamatan Pengadegan rupanya membuka peluang usaha yang lebih besar bagi para petani. Lada perdu dapat menghasilkan produksi rata-rata 2s00 gram lada kering per pohonnya pada usia dua tahun dan 500 gram pada umur tiga tahun.

“Jika lada perdu ditanam dengan jarak 1×2 meter maka lahan seluas satu hektar dapat ditanami sekitar 4500 pohon,” jelasnya.

Dengan jumlah tanaman sebanyak itu, produksi lada dapat mencapai 900 kg dengan harga Rp 30 ribu per kg. Maka pemasukan yang didapatkan pada dua tahun pertama mencapai Rp 27 juta dan akan meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.

“Pada tahun ke tiga dimana produksi dapat mencapai 2250 kg atau setara dengan Pendapatan Rp 67,5 juta,” imbuh Sri Haryanti.

Ia menjelaskan pada tahun pertama, lada perdu masih belum siap panen secara maksimal sehingga disarankan untuk dipangkas dulu agar tanaman kokoh dan kuat. Tahun berikutnya, ia melanjutkan bunga yang muncul telah siap menjadi buah dan bisa langsung dipanen setelah berbuah.

“Panen selanjutnya dilakukan setiap tahun sampai tanaman berumur lebih dari 10 tahun , tergantung pemeliharaan,” ujarnya.

Sri Haryanti menyampaikan antara lada perdu dan lada panjat memiliki perbedaan pada teknik budidayanya. Lada perdu tidak memerlukan tiang panjat sehingga teknik budidayanya jauh lebih praktis, efisien dan ekonomis.

“Kalau lada panjat kan pasti menggunakan tiang panjat atau tiang cor untuk merambat nah ini membutuhkan biaya lebih mahal dibandingkan dengan lada perdu,” ungkap Sri Haryanti.

Selain itu jarak tanam lada perdu lebih rapat 1×2 meter, sementara lada panjat membutuhkan jarak tanam minimal 2×2 meter. Keuntungan lain yang didapatkan dari lada perdu yakni pemeliharaan dan pemungutan hasil lebih mudah.

“Panen tidak perlu menggunakan tangga, tidak perlu pemangkasan dan pengikatan sulur. Lada perdu ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai tanaman intercrop (tanaman sela, Red), tanaman pekarangan dan mempunyai nilai estetika jika ditanam di halaman rumah atau pot,” terangnya.

Untuk menanggulangi hama penyakit pada tanaman perdu tidaklah sulit cukup dengan penyemprotan pestisida sebulan sekaliatau sesuai kebutuhan. Kemudian pemberian bamboo yang bertujuan untuk menghindari kontak langsung daun lada dengan tanah sebagai upaya untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

“Untuk lada yang merambat itu kemarin ada permasalahan terkait penyakit kuning itu yang daunnya menguning terus biji ladanya rontok itu kan ada beberapa persen nah yang merambat kan jadi agak kurang disukai petani,” pungkas Sri Haryanti. (PI-7)


Gebrak Gotong Royong Di Dusun Karangtengah Desa Pengadegan

Category : Tak Berkategori

PURBALINGGA- Dari sejumlah 530 rumah tidak layak huni (RTLH) sesuai data base di Kecamatan Pengadegan, baru 20% yang telah mendapat bantuan RTLH. Hal tersebut diungkapkan Camat Pengadegan Joko Pribowo SSos saat menyampaikan sambutannya di hadapan Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM pada kegiatan gerakan bersama rakyat (gebrak) gotong royong di dusun Karangtengah Desa Pengadegan KecamatanPengadegan, Jum’at pagi (08/03).

“Hari ini bersama Plt Bupati kita bersama-sama bergotong royong merehab 3 RTLH yang mendapat bantuan salah satunya milik ibu Suwarni yang sempat viral di media sosial karena rumahnya roboh. Saya sampaikan, sebenarnya rumah tersebut sudah masuk daftar penerima bantuan pada tahun 2019 ini, bahkan material sudah disiapkan namun karena keburu roboh, maka kami prioritaskan segera direhab. Secara khusus saya sampaikan terima kasih atas sengkuyung masyarakat, pengusaha dan komunitas motor yang turut berpartisipasi terutama untuk membantu rehab RTLH di Kec Pengadegan,” kata Joko.

Selanjutnya Joko menyampaikan, tahun 2019 Kecamatan Pengadegan mendapatkan alokasi Dana Desa sejumlah Rp14.729.300.000, dan juga bantuan keuangan khusus (BKK) sejumlah Rp 800 juta untuk 4 desa. Pengadegan juga mendapatkan alokasi kegiatan fisik ke PU-an yang cukup besar untuk peningkatan kapasitas jalan Pengadegan–Bedagas sejumlah Rp 2 milyar 380 juta, pemeliharaan berkala jalan raya Panunggalan-Danakerta sejumlah Rp 701 juta dan juga peningkatan struktur jalan Tegalpingen-Pepedan Rp 5 milyar 594 juta serta pembangunan jalan usaha tani di Desa Larangan sejumlah Rp 96 juta.

Dalam kesempatan tersebut Plt Bupati DH Pratiwi menyampaikan Dana Desa yang sudah dialokasikan untuk Kec Pengadegan yang jumlahnya semakin banyak harus dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan masyarakat dalam rangka pembangunan dan pemberdayaan masyarakat guna peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan salah satunya dengan memberikan bantuan rehab RTLH.

“Saya haturkan terimakasih mendapat sambutan luar biasa dari warga Pengadegan, saya percaya seluruh warga disini akan terus sengkuyung bersama pemerintahan desa, Kecamatan dan Kabupaten bersama-sama dalam melaksanakan program kebijakan pembangunan. Terkait aspirasi yang saya terima yaitu pembangunan jalan, saya minta pihak Bapelitbangda untuk segera menginventarisir dan mengkoordinasikan, apabila telah masuk dalam Musrenbang untuk segera diprioritaskan,” kata Plt Bupati DH Pratiwi.

Dalam gebrak gotong royong di desa Pengadegan, Plt Bupati menyerahkan bantuan rehab RTLH dari Bank Artha Perwira Purbalingga untuk ibu Suwarni, BAZNAS untuk bapak Juweni, BPR BKK untuk bapak Suheri dan berbagai bantuan berupa paket rasbangga dan lele sejumlah 981 paket, PMT ibu hamil dan PMT balita, bantuan alat kesehatan, alat sarana pertanian dan juga bantuan kemasan untuk pelaku UMKM di Pengadegan. (t/ humpro2019)

PURBALINGGA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga akhirnya bermusyawarah bersama sejumlah komponen masyarakat Desa Bedagas, Pengadegan terkait pengoperasian kembali Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kalipancur Bedagas, Minggu (24/3) di Aula Kantor Kecamatan Pengadegan. Musyawarah ini diikuti oleh Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kepala DInas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan Sekretaris Badan Perencana, Penelitian Pengambangan Pembangunan Paerah (Bappelitbangda), Camat Pengadegan, serta komponen masyarakat Desa Bedagas yang terdiri dari Kepala Desa, BPD, LKMD, Tokoh Pemuda, dan Tokoh Masyarakat.

Seperti yang diketahui, sebelumnya masyarakat Desa Bedagas khususnya Dusun 5 merasakan adanya gangguan polusi udara akibat tumpukan sampah di TPA, bahkan dirasakan sebagian kecil di Dusun 4. Hal itu disebabkan oleh sampah yang menggunung serta kurang maksimalnya proses sanitary landfill dan keterbatasan kemampuan mesin pemilah.

Berdasarkan hasil musyawarah ini, Plt Bupati Tiwi bersama yang hadir menyepakati beberapa hal. Pertama, Pemkab Purbalingga akan segera menyelesaikan masalah penumpukan sampah di TPA Bedagas akan diselesaikan selama satu minggu. Kedua, pihak desa dan masyarakat menerima pengiriman sampah ke TPA Bedagas mulai hari ini (Minggu, 24 Maret 2019).

Ketiga, Camat, Kepala Desa dan Perangkat Desa, Ketua BPD dan Ketua LKMD beserta unsur masyarakat Desa Bedagasbersedia untuk mengamankan kebijakan pemerintah terkait pengiriman dan pengelolaan sampah ke TPA Bedagas. Keempat, Pemerintah daerah menyetujui aspirasi Pemerintah Desa dan masyarakat Bedagas berupa : bantuan pembangunan Balai Desa, pelebaran jalan menuju Dusun 5 dengan syarakat tidak ada ganti rugi pembebasan lahan dan bantuan pembangunan lapangan.

“Kami berkomitmen menyelesaikan tumpukan sampah di TPA namun kami juga ingin sampah yang ada di kota ini bisa kembali diproses ke TPA, sehingga Purbalingga tidak lagi darurat sampah,” katanya.

Terkait dengan 21 item komitmen Pemkab Purbalingga terhadap Desa Bedagas sebagai penghargaan atas berketempatan lokasi TPA, ia meyatakan akan direalisasi secara bertahap menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Meski demikian beberapa hal yang sudah direalisasi diantaranya penyediaan LPJU, rekrutmen 31 Tenaga Harian Lepas (THL) di TPA serta Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang akan mulai dicairkan tahun ini.

Meski demikian, peruntukan BKK ini, Pemerintah Desa harus mematangkannya terlebih dahulu melalui proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). “Harus ada proses mekanisme perencanaan. Jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari,” katanya.

Sementara itu Kepala DLH Purbalingga Priyo Satmoko SH MH menyatakan saat ini telah dilakukan penggalian lubang penguburan untuk gunungan sampah, meski demikian masih keterbatasan alat berat eskavator long arm. “Maka untuk merealisasikan komitmen penyelesaian selama seminggu ini akan dilakukan penambahan alat berat. Disisi lain kami juga akan memasang zona aktif I yang saat ini masuk tahap lelang,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Bedagas, Juwari menyatakan selaku kades baru, ia akan mendukung setiap program pemerintah daerah. “Kelihatannya solusi tersebut sudah disampaikan, kalau itu betul-betul dilaksanakan sesuai harapan, silahkan. Mari selaku masyarakat Bedagas agar antara ketempatan dan menempati bisa sama-sama menerima manfaatnya,” katanya.(Gn/Humas) 


PLT BUPATI MEMANEN CABE DI OBYEK WISATA SI DALUNG TUMANGGAL

Category : Wisata

Memanen Cabai dan Pare di Gebrak Gotong Royong Tumanggal

Plt. Bupati Tiwi saat memanen cabai keriting di Desa Tumanggal, Pengadegan dalam rangkaian kegiatan Gerakan Bersama Masyarakat (Gebrak) Gotong Royong, Sabtu (4/8).

PurbalinggaNews – Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon mengikuti Gerakan Bersama Masyarakat (Gebrak) Gotong Royong di Desa Tumanggal, Pengadegan, Sabtu (4/8). Kagiatan kali ini sengaja ditempatkan di Dusun Pagersari, sebagai kawasan desa yang sedang dikembangkan untuk wisata agrowisata.

Di kawasan itu, Plt Bupati Tiwi berkesempatan untuk memanen cabai merah keriting. “Potensi agro di Desa Tumanggal sangat bagus, ada cabai bawang merah dan tanaman pertanian yang lain. Hari ini kita penen cabai merah ini sudah panen yang ke 11,” katanya di sela-sela memetik cabai.

Potensi lahan di Desa Tumanggal ini terdapat 20 hektare untuk tanaman holtikutura. Namun saat ini baru termanfaatkan seluas 11,5 hektar. Diantaranya untuk menanam bawang merah, cabai, terong papaya, pare dan sebagi kecil semangka dan melon.

“Karena lebih menguntungkan, masyakarat disini akhirnya lebih tertarik ke holtikultura,” katanya.

Selain itu Plt Bupati Tiwi bersama suami, Rizal Diansyah juga berkesempatan untuk memanen sayur pare yang tidak jauh dari lokasi pemetikan cabai. Kawasan ini sengaja diproyeksikan untuk agro wisata.

Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Tumanggal Kukuh Fajar mengatakan lahan yang berlokasi di Desa Tumanggal sebelah utara ini merupakan tanah semen atau tanah yang muncul akibat peralihan aliran sungai. Sehingga cenderung subur.

“Hasilnya untuk pertanian memang cukup bagus. Produksi bawang merah disini mengungguli dengan yang ada di Brebes. Sebab di sini produksinya bisa 7 ton per hektare,” katanya.

Terkait dengan pengolahan tanah, ia mengatakan di lahan ini sudah menggunakan fermentasi pupuk yang bagus dan pengendalian hama terlaksana dengan baik. Sementara dari sumber daya manusia, petani sudah cukup teredukasi masalah pertanian dengan pertemuan rutin kelompok tani, informasi teknologi dan inovasi juga sudah tersampaikan.

Sementara itu Camat Pengadegan, Joko Pribowo SSos mengatakan selain agro, wilayah Dusun Pagersari ini juga memiliki daya pikat potensi wisata dengan pemandangan bukit di belakang hamparan pertanian. Selain itu juga terdapat spot foto yang cantik dan dikelilingi kolam. Pihak desa menamai kawasan ini sebagai Agro Wisata Edukatif Si Dulang.

“Penyelenggaraan Gebrak Gotong Royong sengaja di ditempatkan disini sekaligus mempromosikan wisata, dimana di tempat ini punya potensi yang perlu dikembangkan baik agro dan alam. Nantinya pengunjung bisa memetik sayur juga memancing ikan di kolam yang sedang digarap,” kata Joko.(Gn/Humas)


SOSIALISASI PENGAWASAN PARTISIPATIP PEMILU BERSAMA KARANG TARUNA

Category : Pemilu

Pemerintah kecamatan pengadegan melakukan sosialisasi pengawasan partisipatip bersama karang taruna kecamatan pengadegan pada 23 Februari 2019

PANEN DURIAN BERHASIL, DAYA TANAM DURIAN MENINGKAT

Category : Wisata

PURBALINGGA, INFO – Siapa yang tidak mengenal buah yang satu ini, walaupun dipenuhi dengan duri tapi mempunyai cita rasa yang bisa menggoyang lidah penikmatnya. Yapss, durian buah yang mempunyai jutaan penggemar karena rasanya yang lezat dan menggoda.

Bagi para pecinta durian, mereka pasti akan mencari durian dari setiap daerah yang mempunyai cita rasa yang berbeda. Buah yang beraroma khas ini pun tersebar hampir di seluruh penjuru Indonesia.

Purbalingga satunya, tepatnya di Kecamatan Pengadegan mulai banyak petani yang membudidayakan durian. Budidaya durian ini sendiri sebelumnya masih dalam skala yang kecil hanya beberapa warga yang membudidayakannya.

Namun seiring berjalannya waktu dan panen durian yang melimpah di kecamatan ini, akhirnya masyarakat berinisiatif untuk menanam durian. Beberapa desa di Kecamatan Pengadegan yang mulai menanam durian sendiri meliputi Desa Tetel, Desa Tegalpingen, Desa Pengadegan dan Desa Pengadegan.

”Pengadegan sekarang minat petani untuk menanam durian meningkat, karena panen durian di Pengadegan cukup berhasil,” kata Sri Haryanti dari BPP Kecamatan Pengadegan saat dihubungi, Rabu (13/2).

Varietas durian yang dibudidayakan di empat desa tersebut pun beragam mulai dari durian monthong orange, duri hitam, musang king, miming, kamun dan matahari. Namun durian yang lebih dominan dikembangkan ialah durian monthong orange.

“Memang untuk durian monthong orange ini paling banyak dikembangkan oleh para petani, karena rasanya yang enak, aromanya kuat dan juga daging buahnya yang tebal,” ujar Sri Haryanti.

Ia pun menjelaskan satu pohon durian lokal yang ada di wilayah Pengadegan bisa menghasilkan 50 butir di umur tanaman 10 – 20 tahun. Kemudian untuk durian lokal di umur tanaman lebih dari 20 tahun bisa menghasilkan durian sampai 200 butir.

Durian lokai ini dijual dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu per butirnya. Sedangkan untuk durian monthong sendiri, panennya disesuaikan dengan umur pohon durian.

“Umur pohon 5-7 tahun bisa menghasilkan 10 butir, sedangkan usia yang lebih dari 7 tahun bisa menghasilkan sampai 90 butir,” jelasnya.

Untuk harga durian monthong pun dibedakan beberapa kriteria yakni yang dipotong dari pohon yang sudah tua namun belum matang diberi harga Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogramnya. Sedangkan yang sudah matang dari petani dihargai Rp 40 ribu per kg.

“Kalau sudah sampai di bakul eceran harganya juga beda lagi Rp 50 ribu sampai 60 ribu per kg,” imbuh Sri Haryanti.

Kualitas durian yang dihasilkan dari petani di wilayah Kecamatan Pengadegan pun bagus tidak kalah dengan durian dari daerah lainnya. Tanaman durian yang sudah panen di wilayah Pengadegan sendiri ada sekitar 7.165 pohon.

Dari keberhasilan inilah, masyarakat di wilayah Pengadegan terutama di empat desa tersebut mulai mengembangkan durian di daerahnya dengan lebih dari 2000 bibit durian. Bahkan untuk pembibitan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat karena mereka melihat keuntungan yang didapat dari menanam durian.

“Walaupun mahal mereka antusias menanam durian monthong karena melihat yang sudah panen cukup menguntungkan,” katanya.

Ia berharap dengan antusiasme para petani mulai menanam durian dengan kesadaran sendiri ini dapat meningkatkan pendapatan para petani. Tanaman yang ditanam tersebut harapannya dapat dinikmati oleh anak cucu di masa yang akan datang.

“Dan terakhir kelestarian tanaman durian ini juga bisa tetap terjaga dengan baik dan para petani ini pun tetap mengunggulkan kualitas dari durian yang mereka tanam,” pungkas Sri Haryanti. (PI-7)


Jembatan Penghubung dua kecamatan

Category : Wisata

Bak` Jembatan Ampera di Palembang, dalam waktu dekat Jembatan Tegalpingen yang sama-sama merahnya ini akan menjadi salah satu spot yang juga iconic di daerahnya, yaitu Purbalingga, bisa jadi. Tak cuma paras yang menawan, keberadaan jembatan ini juga memiliki banyak implikasi positif dalam bidang transportasi dan perekonomian.

Jembatan Tegalpingen-Pepedan yang memiliki lebar 7 meter dan panjang 130 meter dibangun di atas Sungai Gintung yang menghubungkan Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan dengan Desa Pepedan, Kecamatan Karangmoncol. .

Keberadaan jembatan ini sangat penting karena untuk membuka akses transportasi warga di dua desa tersebut yang selama ini terisolasi. Pembangunan jembatan lengkung merah penghubung Desa Pepedan dan Desa Tegalpingen ini dapat meningkatkan mobilitas penduduk antar Kecamatan yakni Karangmoncol dan Pengadegan. Peningkatan mobilitas pada akhirnya berdampak pada peningkatan laju perekonomian masyarakat.

Penduduk Tegalpingen yang terbiasa belanja di pasar Bobotsari atau pasar Karangmoncol lebih mudah, kemudian warga Karangmoncol yang akan ke Purbalingga kota atau sebaliknya akan memperpendek jarak dan efisiensi waktu tempuh.

Latar jembatan yang memiliki view indah menjadi nilai tambah. Pesona gunung Slamet jelas terlihat dalam kondisi cuaca cerah. Karena itu, lokasi sekitar jembatan berpotensi menjadi destinasi wisata alam khususnya air.

Kondisi yang dialami warga Desa Pepedan Kecamatan Karangmoncol sebelum keberadaan jembatan ini adalah jika ingin menuju kota Purbalingga mereka juga harus menyeberang Sungai Gintung dan melewati Desa Tegalpingen. Namun saat kondisi hujan, air sungai meluap. Mereka tak berani melintas. Untuk menuju kota mereka harus memutar sekitar 30 kilometer.

Keberadaan jembatan sangat dibutuhkan warga dua desa yang sudah puluhan tahun terisolir. Di Kecamatan Pengadegan, terdapat empat dusun yang kondisinya terisolir. Warga memang membutuhkan pembangunan jembatan untuk membuka akses ekonomi dan akses yang lain. Jika pembangunan jembatan direalisasikan, maka banyak keuntungan yang diperoleh. Jarak tempuh ke berbagai wilayah bisa dipangkas, angkutan masyarakat terlayani dan perekonomian warga juga hidup.

Credit Foto: Aam Riyanto


Pelatihan Website

Category : Pendidikan


PELATIHAN WEBSITE KECAMATAN PENGADEGAN DI DINKOMINFO KABUPATEN PURBALINGGA

Sejumlah 18 Kecamatan dan 15 Kelurahan yang mengikuti pelatihan Websit Dinkominfo Kabupaten Purbalingga pada hari rabu-kamis tanggal 6-7 feburai 2019